Sabtu, 03 September 2011

Catatan tentang ucapan “Minal ‘Aidin wal Faizin”


Sebenarnya, sudah lama kalimat ini menggelitik dalam pikiran saya. Tentang susunan kalimatnya, tentang makna yang terkandung di dalamnya, begitupun tentang kebiasaan orang dalam melafalkan dan menuliskannya. Dan sebenarnya, juga tentang asal usul kalimat ini, sekaligus hukum melafalkannya sebagai ucapan idul fithri. Namun, sementara saya hanya ingin mengritisi dari sudut pandang bahasa. Sedikit catatan saya ini mudah-mudahan bisa memberikan tambahan wawasan teman-teman seputar kalimat ini.
Pertama, tentang lafal dan tulisan. Ada beberapa ungkapan yang sudah populer namun tidak pas dalam melafalkan kalimat ini. Seperti ; minal aidzin wal faidzin, minal aizin wal faidzin ato minal aizin wal faizin. Padahal dalam bhs aslinya, teksnya berbunyi:
مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَ اْلفاَئِزِيْنَ
Yang jika ditransliterasikan ke dalam bhs indonesia sekurang-kurangnya berbunyi “Minal ‘aidin wal Faizin”
Kedua, dari susunan kalimatnya. Dhahir kalimat tersebut tidak menunjukkan sebagai jumlah mufiidah (kalimat sempurna) yg setidaknya memenuhi unsur Mubtada’ dan Khabar jika jumlah ismiyah (kalimat yg diawali dgn kata benda), atau fi’il dan fa’il jika berupa jumlah fi’liyah (kalimat yg diawali dengan kata kerja).
Ungkapan tersebut seperti penggalan dari sebuah kalimat. Dan sayangnya...tidak banyak yang mengetahui penggalan awalnya. Meskipun tidak disebutkannya penggalan awal ini barangkali dahulunya orang yang berbicara atau diajak bicara sudah dianggap memahami maksudnya. Penggalan awal dari kalimat tersebut berbunyi:
جَعَلَناَ اللهُ وَ إِيَّاكُمْ
Sehingga kalimat komplitnya berbunyi:
جَعَلَناَ اللهُ وَ إِياَّكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَ اْلفَائِزِيْنَ
“ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faaiziin.”
Ketiga, dari sisi makna. Adalah salah kaprah jika kalimat minal ‘aidin wal faizin diartikan ‘MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN’. Mungkin karena kedua kalimat itu sering atau bahkan selalu disandingkan, maka banyak yang mengira keduanya bermakna sama. Adapun secara harfiah, makna penggalan kalimat tersebut adalah ‘min’ artinya dari (termasuk dari), ’aidin artinya (golongan) orang2 yg kembali (kepada Allah), wa: dan, al-faizin: (golongan) org2 yg berjaya/menang.
Jika digabung dengan penggalan kalimat pertama, arti yang dimaksud adalah “Semoga Allah menjadikan kami dan juga Anda termasuk golongan orang-orang yang kembali kepada Allah dan sukses (dalam mengisi Ramadhan).”
Wallahu a’lam
(Abu Umar Abdillah)

http://www.facebook.com/profile.php?id=1465237609

Jumat, 02 September 2011

Banyak gak sih uang Rp 1.000?


Banyak gak sih uang Rp 1.000?
Kata Adik saya yang berusia 11 tahun, “uang Rp 1.000 ya sedikit sekali...”
Benarkah?
Ya, tentu saja, karena Adik saya yang kelas 6 SD tsb, uang saku sekolahnya sehari-hari
Rp 5.000. Uang Rp 1.000 tidak cukup kalo buat jajan seharinya...
Tapi, Waktu saya SD (9 tahun lalu)...
waktu saya SD, seingat saya uang jajan sekolah mentok-mentoknya Rp 2.000
Uang segini pun sudah banyak dulu...
Cukup lah buat beli nasi kuning, es teh, gorengan, snack lain...


Lebih ngeri lagi...
di tahun 1977
Uang saku ibu saya (waktu SMP)  Rp 25/ hari,
kalo gak sempet sarapan Rp 35/ hari,
Jadi Rp 1.000 bisa digunakan untuk uang saku sekolah selama 1 bulan-an lebih...
Kenapa bisa begitu*?
*Uang bisa menurun daya belinya karena inflasi.
Dalam ilmu ekonomi, yang dimaksud dengan inflasi adalah kenaikan harga-harga terhadap barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu. 
Lantas apa akibatnya?
Orang semakin menurun kemakmuranya...
Bila menyimpan uang lama-lama, daya belinya semakin tidak ada...


Kamis, 01 September 2011

yuk nabung emas


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Inflasi merupakan bencana yang tidak kita sadari namun selalu terjadi dan sangat sulit untuk dihindari terlebih di saat-saat terjadi ancaman krisis ekonomi. Akibat inflasi harga barang-barang menjadi lebih mahal dari waktu sebelumnya, maka dengan jumlah uang yang sama, jumlah barang yang bisa dibeli menjadi semakin sedikit. Sebuah contoh ekstrim yang memang terjadi dan dialami oleh orang-orang yang saat ini telah berusia 50-an tahun yakni, di tahun 1975, uang masih berharga, cukup dengan Rp 50 sudah bisa membeli martabak telur, namun setelah terjadi inflasi selama 36 tahun, harga martabak telur menjadi Rp 8.000. Bila dulu di tahun 1975 uang Rp 10.000 bisa untuk membeli 200 martabak, sekarang hanya bisa digunakan untuk membeli 1 martabak saja. Secara tragis, hasil jerih payah orang-orang 40an tahun yang lalu dalam bentuk tabungan uang rupiah tidak banyak bermanfaat bila digunakan sekarang.
Maka, kita perlu melindungi asset kita agar tidak mengalami rasa pahit akibat dari inflasi. Sebuah cara yang dapat digunakan untuk mempertahankan daya beli aset kita yakni dengan menyimpan emas. Bila di tahun 1975 kita memiliki uang Rp 10.000 dan dibelikan emas untuk kita simpan, maka dengan harga emas yang saat itu sebesar Rp 2.148 / gram, kita bisa membeli 4,65 gram. Kemudian bila emas ini disimpan dan dijual di tahun 2011 ini, maka kita bisa memperoleh uang Rp 2.327.000 (harga beli emas di tempat kami saat menulis surat ini adalah sebesar
Rp 500.000). Maka dengan memanfaatkan emas sebagai instrumen investasi, membeli emas senilai Rp 10.000 dan kemudian menyimpannya dari tahun 1975 kemudian menjualnya di tahun 2011 ini kita bisa membeli 290 martabak telur, melebihi jumlah martabak telur yang bisa dibeli di tahun 1975.
                Usaha kami menawarkan produk emas yang insya Allah dapat menjaga daya beli asset Anda. Produk yang kami tawarkan adalah koin emas dinar. Koin ini memiliki berat 4,25 gram dengan kadar kemurnian 22 karat. Pencetak koin adalah PT. ANTAM dan PERUM PERURI yang sertifikatnya telah diakui dunia internasional. Harga buy back (pembelian balik dari Anda ke kami) pun sangat menguntungkan, hanya berselisih 4% dari harga jual. Misalnya, bila di tahun 2009 Anda membeli 1 dinar yang saat itu harganya Rp 1.390.000 disimpan dan ingin dijual kembali tanggal 1 September 2011 dimana saat ini harga jual dinar Rp 2.236.314, maka harga uang yang bisa Anda dapatkan dengan menjual kembali 1 dinar Anda di tempat kami adalah = (100-4) % x Rp 2.236.314 = Rp 2.146.861
                Ada 2 pilihan pembelian dinar di tempat kami, yakni Anda langsung membeli koin dinar tersebut kemudian anda simpan sendiri dan kedua yakni anda membeli dinar untuk ditabung di BMT kami melalui produk m-dinar. Dengan produk m-dinar ini, Anda bisa membeli dalam jumlah kecil atau kurang dari 1 dinar, misal Rp 100.000, dan akan mendapat dinar sebanyak jumlah setoran anda dibagi dengan harga jual dinar saat transaksi. Kemudian bila, saldo telah mencapai kelipatan 1 dinar, bila anda merasa lebih nyaman untuk menyimpan dinar Anda sendiri maka Anda dapat menukar tabungan m-dinar Anda dengan koin dinar dengan menambah biaya ganti ongkos kirim koin dinar. Melalui produk tabungan ini, Anda bisa menjual kembali dinar dengan harga yang lebih bagus. Kami memberikan fasilitas titip jual, dengan fasilitas ini Anda bisa menjual dinar dengan selisih 2% saja dari harga jual dinar.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,